1
Pasang
Pak nanti kalau ulang tahun di Taipei mau diberi hadiah apa ?” Tiba-tiba aku bertanya pada bosku di tengah-tengah obrolan selama perjalanan dari Jakarta ke Taipei yang memakan waktu hampir 5 jam. Saat itu aku sedang menemani bosku melakukan kunjungan rutin ke supplier perusahaan kami di Taiwan sekaligus mengunjungi pameran di sana selama kurang lebih satu minggu.

Namaku Thya, aku adalah General Manager Administration, Logistik & Purchasing di perusahaanku sehingga aku yang akan menemani boss apabila melakukan pertemuan dengan supplier-supplier perusahaan. Aku orang menado yang sudah lama tinggal di Bandung, berbadan mungil dengan kulit yang putih bersih serta rambut pendek. Saat itu walaupun umurku sudah 28 tahun tapi aku belum menikah dan masih perawan walaupun sudah punya pacar.

“Memangnya laki-laki umur 37 tahun masih butuh kado kalau ulang tahun ?” Jawab pak Yanto dengan tersenyum. Pak Yanto adalah nama bossku, selain sebagai pimpinan perusahaan dia juga merupakan pemilik perusahaan yang dia bangun sendiri dari nol. Secara fisik, pak Yanto sangat kontras denganku; badannya tinggi besar dengan kulit sawo matang ditambah dengan bulu-bulu yang lebat yang mebuat pak Yanto terlihat macho bagiku. Oh ya, bossku ini sudah menikah dengan dua anak yang sudah besar dan aku kenal cukup dekat dengan keluarganya karena diperusahaan kami sering diadakan family gathering paling sedikit setahun sekali.

Selama ini hubungan kami hanya sebatas professional, walaupun kuakui aku punya rasa simpati dan kagum yang sangat besar kepada pak Yanto karena aku mengikuti beliau sejak perusahaannya bukan apa-apa sampai menjadi perusahaan yang disegani.

“Biasanya kalau orang dikasih kan mau saja pak” Kataku dengan muka yang dipasang seserius mungkin.

“Kalau begitu saya hanya bakal menerima hadiah dari kamu saja Thya, wong pas saya ulang tahun kita masih di Taiwan” balas pak Yanto sambil tertawa “Nah … kamu emangnya bisa kasih apa ?”

“Orang Manado itu katanya terkenal karena bubur dan bibirnya” Jawabku dengan bercanda seperti biasa “ … dan karena kita sedang berada di Taiwan, saya tidak mungkin bisa membuatkan bubur untuk bapak jadi tinggal bibir Manadonya saja yang memang selalu ada bersama saya”.

Kata-kata itu terlepas begitu saja tanpa sempat aku pikirkan dulu akibatnya, malah yang sempat aku khawatirkan adalah apabila candaku itu membuat marah pak Yanto. Hal ini yang membuatku jadi salah tingkah sendiri dan pura-pura melihat-lihat majalah penerbangan yang ada di hadapanku.

“Wah menarik nih …” kata pak Yanto dengan suara serius seperti kalau mendapat ide bisnis baru “Artinya kamu mau kasih hadiah ciuman bibir Manado kan di hari ulang tahun saya ?”

“Karena saya nanti berulang tahun ke 37, maka kamu harus mencium saya sebanyak 37 kali sebagai tanda bahwa kamu memberi hadiah dengan serius” lanjut pak Yanto “dan saya mau itu merupakan hadiah pertama yang saya terima, artinya hadiah itu harus kamu berikan ke saya jam 00:00 tengah malam”

Aku hanya menjawabnya dengan tertawa karena awalnya memang aku hanya mau bercanda saja, lagi pula ulang tahun pak Yanto masih 2 hari lagi dan pasti beliau sudah lupa saat itu karena acara kami cukup padat.

--- ooo0ooo---

“Tingggg…tong Tinggg…tong”

Malam itu aku terbangun oleh bunyi bel kamar hotelku yang rupanya sudah berbunyi berulang ulang. Dalam kondisi setengah sadar, aku berjalan ke pintu dan mengintip ke luar untuk melihat siapa yang membunyikan bel hampir tengah malam begini.

Ooops … ternyata bossku lah yang ada di depan pintu kamarku. Dengan perasaan kaget aku segera membuka pintu dan mempersilahkan beliau masuk saat memintanya.

Padahal saat itu aku hanya mengenakan baju tidur model lingerie pendek yang hanya menutup dada sampai ke setengah paha dengan ikatan simpul tali kain pada kedua bahuku yang menahannya. Aku juga sudah tidak mengenakan BH lagi dan hanya memakai celana dalam mini dari kain katun yang tipis. Pak Yanto sendiri mengenakan baju tidur berupa kaos dan celana training serta beralaskan sandal hotel.

“A..aa..ada apa Pak ?” kataku tergagap karena kaget.

“Kamu sudah lupa ya sama janji kado ulang tahun buat saya ?” kata bossku sambil tersenyum.

“Aduhhh … “ kataku dalam hati, “Beliau masih ingat dan menganggapnya serius !”

Sekarang perasaanku menjadi tidak karuan, antara rasa takut dan malu. Takut pak Yanto marah kalau aku katakan bahwa aku hanya bercanda dan malu kalau aku terpaksa benar-benar harus memberikan ciuman bibir ke pak Yanto.

“Ayo siap-siap, sekarang sudah pukul 23:58 … malah sudah 23:59 tuh …” kata pak Yanto sambil tangan kirinya meraih pinggangku untuk mendekatkan tubuhku ke tubuhnya walaupun matanya tetap melihat ke jam di meja hotel.

Begitu jam menunjukkan pukul 00:00, beliau perlahan mengangkat daguku dengan tangan kanannya sambil setengah membungkuk bibirku diciumnya dan langsung dikulum dengan bibirnya yang hangat. Mau tak mau aku juga membalas ciumannya walaupun dengan setengah terpaksa dan dalam situasi yang serba kikuk. Beberapa saat kemudian aku merasakan gerakan lidah pak Yanto menyapu bagian dalam bibirku sehingga menimbulkan sensasi yang mulai membangkitkan sedikit gairahku.

Akhirnya pak Yanto melepaskan ciuman bibirnya dari bibirku dan menatapku sambil tersenyum ; “Sudah 1 ciuman dan masih ada 36 ciuman lagi yang masih harus kamu berikan”

“Ssseee..se..lamat ulang tt..tahun pak Yanto “ kataku terbata-bata dan aku rasakan mukaku memerah karena merasa sangat malu.

Melihatku seperti itu pak Yanto langsung memelukku membuat kepalaku terbenam di dadanya yang bidang, akupun merespon dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Kami kemudian berpelukan dengan erat sehingga aku bisa merasakan kehangatan tubuh beliau. Berada dalam pelukan orang yang aku kagumi membuat hatiku berangsur-angsur menjadi tenang.

“Hhhhmmmm …” itulah rasanya berciuman dengan pak Yanto dan tidak terlalu sulit rupanya, gumamku dalam hati.

Tidak berapa lama kemudian pak Yanto kemudian menciumku lagi, kali ini aku lebih siap sehingga benar-benar bisa menikmati kehangatan dan bahkan bisa mulai membalas ciumannya dengan lebih sungguh-sungguh seperti berciuman dengan pacarku saja.

Beliau benar-benar bisa membuatku terlarut dalam ciumannya yang panjang sehingga aku tidak menyadari bahwa simpul ikatan baju tidurku pada bahuku juga sudah dilepas oleh beliau. Akibatnya saat kita berhenti berciuman dan melonggarkan pelukan, baju tidurku langsung melorot kebawah dan hanya menyisakan celana dalam mini saja yang masih menutupi tubuhku.

“Aduh …” Aku hanya bisa berseru kaget dan berdiri terpaku bertelanjang dada di depan pak Yanto.

Belum juga rasa kagetku hilang, pak Yanto sudah membopong tubuhku dan membaringkannya terlentang di ranjang. Tanpa menunggu lagi bossku itu juga langsung melepas celana dalamku sehingga aku benar-benar dalam keadaan bugil sekarang. Secara refleks tanganku langsung menutupi dada dan kemaluanku.

Aku mulai merasa ketakutan dan badanku semakin gemetar saat melihat pak Yanto juga melepas semua bajunya dan merangkak naik ke atas tubuhku.

“Pa jangan Bapaaa … saya masih perawan … tolong pak” aku memohon kepada pak Yanto dengan suara gemetar.

“Ga apa-apa sayang … kamu tidak usah khawatir saya akan hati-hati” jawab pak Yanto

“Sekarang lepaskan tangannya jangan sampai menutupi tubuh kamu” lanjutnya lagi sambil tersenyum “Ingat kamu masih punya hutang 35 ciuman lagi lho …”

Aku tidak mengerti apa yang beliau maksudkan, tapi akhirnya aku hanya bisa merasa pasrah saja untuk mengikuti yang beliau lakukan sehingga rasa takutku menjadi banyak berkurang. Dengan gerakan ragu-ragu aku letakkan tanganku di samping tubuh sehingga pak Yanto bisa melihat seluruh tubuhku tanpa terhalang lagi. Beliau lalu menekuk kedua kakiku dan membuka pahaku lebar-lebar sebelum kemudian menindih tubuhku dengan tubuhnya. Kedua payudaraku bersentuhan juga dengan dadanya, sedangkan kemaluanku bersentuhan dengan perutnya karena postur tubuhku yang jauh lebih kecil darinya.

Bibirku kembali diciumnya tapi bibirku masih terlalu gemetar untuk bisa menikmati ciumannya sehingga beliau mengalihkannya denga mulai menciumi leher dan kupingku. Ciuman-ciuman itu membuatku merasa geli sehingga aku tanpa sadar tubuhku menggelinjang-gelinjang dan tanganku memeluk tubuh beliau. Gesekan tubuhku dengan pak Yanto juga menimbulkan perasaan aneh yang belum pernah aku alami sebelumnya dan menyebabkan putting payudaraku mulai mengeras.

“Bapaa….aduuuhhhh geli” kataku ketika tiba-tiba pak Yanto menciumi putting kiriku dan mengulumnya sambil memainkan lidah untuk menyapu putingku yang berwarna coklat terang. Di kemudian hari kuketahui bahwa payudara merupakan kelemahanku, begitu disentuh aku langsung terangsang.

“Ahhh …ahhhh ….ahhh …ohhhh”

Aku hanya bisa mengerang ketika tangan pak Yanto mulai meremas-remas payudara kananku sambil kadang-kadang memainkan putingnya dengan jari-jarinya. Payudaraku tidak terlalu besar sehingga pak Yanto dengan mudah meremasnya dengan seluruh telapak tangannya yang besar. Secara bergatian payudara kiri dan kanan digilir untuk diciumi dan diremas oleh bossku yang membuat degup jantungku semakin kencang dan aku mulai merasakan kemaluanku seperti basah.

Tiba-tiba aku merasakan pak Yanto melepaskan ciumannya diputingku dan bibirnya mulai menelusuri perutku ke arah bawah sampai ke kemaluanku.

“Aaakkkkhhhhhh …..”

Aku kembali hanya bisa mengerang ketika pak Yanto mulai menciumi “bibir bawahku”, menghisap dan memainkan lidahnya pada kelentitku.

Tangan pak Yanto juga sudah tidak meremas payudaraku, tapi jadi ikut membantu membuka bibir kemaluanku untuk memudahkan beliau menciumi, menjilati dan menghisap seluruh bagian kemaluanku tanpa ada yang terlewati. Aku juga merasakan kadang-kadang lidah pak Yanto seperti keluar masuk kedalam liang senggamaku yang menimbulkan sensasi yang sangat nikmat sehingga aku terus-menerus mengeluarkan suara erangan dan jeritan kecil.

“Bapaaaaaaa ….. ahhhhh…aahhhhhhh” jeritku karena tiba-tiba aku merasa seperti ingin pipis.

Secara refleks tanganku kananku menekan kepala pak Yanto sedangkan tangan kiriku meremas payudaraku sendiri. Pak Yanto semakin memainkan lidahnya di lekuk-lekuk kemaluanku dan juga liang senggamanya membuatku semakin tak bisa menahan rasa ingin pipisku lagi. Akhirnya …. Sambil sedikit mengangkat pantat tanpa aku bisa tahan air pipisku keluar tetapi terasa berbeda dengan pipis biasa karena selain lebih sedikit keluarnyapun terputus-putus.

Pak Yanto sudah tidak lagi menciumi kemaluanku, beliau sekarang hanya memandangku sambil mengelus-elus kemaluanku dengan jari-jari tangannya. Aku sendiri terbaring lemas dengan tangan terkulai dan kedua paha yang mengangkang lebar. Gelombang rasa nikmat yang luar biasa menjalar keseluruh tubuhku sehingga tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri ketika merasakannya.

“Bagaimana rasanya … ?” pak Yanto bertanya sambil tersenyum “Enak bukan ?”

Aku hanya menjawab dengan mengangguk sambil tersenyum malu, lalu aku palingkan mukaku sambil menggigit-gigit ujung kuku jariku karena tak sanggup menatap mata beliau yang mejelajahi tubuh bugilku.

Tiba-tiba aku merasakan kemaluanku mulai digesek-gesek lagi tapi rasanya berbeda tidak seperti oleh lidah dan tangan pak Yanto karena gerakannya hanya maju dan mundur. Saat aku coba melihat apa yang dilakukan beliau sekarang, aku menjadi kaget karena ternyata pak Yanto menggesek-gesekkan kemaluannya pada kemaluanku dengan cara menggerakkan pantatnya maju mudur. Sekali-sekali ujung kemaluan beliau juga menusuk-nusuk liang senggamaku walaupun hanya sampai di kedalaman bibirnya saja.

“Aku mohon jangan pa…..Ohhhh … Aku masih perawan …Ahhhh” desahku mencoba mengingatkan beliau lagi.

Tapi walaupun begitu aku sendiri terus terang sangat menikmati sensasinya sehingga kubiarkan pahaku terbuka lebar-lebar agar tidak mengganggu gerakan beliau. Bahkan kadang-kadang aku mengangkat pantatku sedikit untuk “menjemput” kenikmatan itu sambil mengeluarkan lenguhan dan erangan nikmat yang cukup keras.

“Ohhh …hhhhh …ohhhh…shhhh…”

Sesaat kemudian pak Yanto menghentikan gerakannya saat ujung kemaluannya sudah berada di dalam bibir liang senggamaku, kemudian beliau mencium bibirku sehingga tubuh kami sekarang lebih merapat. Ciuman pak Yanto makin lama makin agresif dengan nafas yang makin memburu dan akhirnya ….

BLESSSSSSS ……

Seluruh batang kemaluan bossku memasuki liang senggamaku dengan satu dorongan yang kuat.

“Aaaaduuuuh …. Sakit Paaaaa …” aku menjerit kesakitan.

Secara refleks aku coba mendorong tubuh beliau, tapi malahan beliau memelukku makin erat dan mulai menggerakkan kemaluannya maju mundur dalam liang senggamaku sampai akhirnya rasa sakitku mulai berkurang.

“Aaaakkkkhhhh … aduhhhh…”

Aku mulai mengerang kenikmatan lagi walaupun kadang-kadang masih terasa sakit, terutama kalau pak Yanto menarik kemaluannya sampai hampir keluar dari kemaluanku sebelum didorong masuk lagi. Mungkin saat itu masih ada sisa-sisa selaput daraku yang masih tergerus.

Pak Yanto rupanya mengamati reaksiku sehingga beliau sekarang hanya menggerakkan pantatnya maju mundur sedikit bergantian dengan gerakan berputar ke kiri dan ke kanan sedangkan kemaluannya dibiarkan makin terbenam mendekati mulut rahimku. Baru sekarang aku merasakan adanya “benda asing” di dalam tubuhku yang mendatangkan kenikmatan begitu besarnya.

“Sekarang sudah jadi enak kan sayang ?” Tanya beliau sambil menciumi bibirku

“ Iiiiiyyyaa saa.. aayang… eh bapa, nikmaaat sekali …” jawabku walaupun sempat salah panggil

“aaakkkkkhhh….shhh…shhhh…mmmmppphh”

Aku kini tidak malu-malu lagi untuk mengerang dan melenguh dengan keras sehingga beliau kadang-kadang harus menyumpal bibirku dengan ciumannya.

Nafasku semakin memburu dan secara tidak sadar tanganku ada di pantatnya pak Yanto, kadang menekan kadang hanya mencakarnya saja. Sampai akhirnya aku tidak tahan lagi untuk mengeluarkan erangan keras;

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh……..” sambil mengangkat pantatku sedangkan tanganku justru menahan pantat beliau agar tidak bergerak dulu sampai gulungan gelombang nikmat ini mereda.

“Ta..ta..haan dulu pa …” pintaku “nikmat sekali rasanya …”

Beliau merespon dengan menghentikan pompaanya sambil bangkit dari posisi menindihku menjadi posisi tegak bertopang pada kedua tangannya sambil tetap menjaga kemaluannya tetap tertanam dalam-dalam pada kemaluanku. Saat itu aku benar-benar merasa lemas seolah-olah seluruh energiku dirubah menjadi rasa nikmat yang amat sangat. Ada sedikit rasa sakit dan ngilu pada kemaluanku tapi sama sekali tidak mengganggu lagi.

Entah berapa lama aku dibiarkan dalam kondisi seperti itu tapi samar-samar aku mulai merasakan tubuhku bergoncang-goncang yang makin lama makin keras. Ternyata pak Yanto sudah mulai memompa kemaluannya lagi, kali ini dengan ayunan yang lebih panjang, cepat dan keras. Saking kerasnya badanku sampai begeser-geser di tempat tidur terdorong oleh sodokan kemaluan beliau. Sehingga beliau harus menarik tubuhku ke tengah ranjang dulu apabila posisi kami sudah dekat pinggiran ranjang sebelum melanjutkan kembali aktivitasnya.

CROOOOK….CROOOOK ….CROK … bunyi yang ditimbulkan kemaluanku yang beradu dengan kemaluannya pak Yanto.

“Ahhh…ahhhh…ahhh….”

Kali ini aku lebih banyak menjerit-jerit kecil daripada mengerang atau melenguh seperti tadi karena sensasi benar-benar berbeda. Keringat kami berdua mulai bercucuran dengan deras seolah-olah sedang melakukan jogging atau olah raga aerobic lainnya.

Beberapa menit kemudian aku mulai merasakan ada lagi gelombang nikmat yang datang dan lebih besar dari sebelumnya sehingga tanpa sadar aku menjepitkan pahaku pada pinggul pak Yanto untuk bersiap-siap menyambutnya. Di lain pihak pak Yanto justru makin mempercepat gerakan kemaluannya sampai tubuhku terguncang-guncang dan aku perhatikan kulit muka pak Yanto semakin memerah.

Pada saat puncak gelombang kenikmatanku datang, tiba-tiba pak Yanto berteriak tertahan

“Thyaaaa….saya keluaaaaaar !”

SROOOOT ….SROOOTTT …SROOOOOT….SROOOOT….SROOOT …srrtttt…srrttt

Kemaluan beliau berdenyut dengan keras dan seperti menyemprotkan sesuatu berkali-kali dengan jumlah banyak di dalam rahim dan lobang senggamaku. Setiap semprotan seolah-olah merupakan bagian dari puncak kenikmatanku sehingga aku ikut menjerit-jerit kecil.

Akhirnya pak Yanto pun lemas dan ambruk menimpa tubuhku, kami berciuman terus sambil menunggu nafas kami yang tadi memburu menjadi kembali normal.

“Thya, nikmat sekali tubuh kamu sayang ….” Kata pak Yanto

“Terima kasih sayang, ini adalah hadiah ulang tahun yang paling istimewa yang pernah saya dapat” lanjutnya sambil tersenyum.

“Hadiah apa ?” jawabku manja “wong bapak ambil sendiri, padahal bukan itu yang mau saya berikan” lalu sambungku “Tapi syukurlah kalau bapak merasa sangat nikmat seperti yang saya rasakan juga” .

Kemudian beliau merubah posisinya menjadi setengah duduk dan membantuku untuk bangkit setengah duduk saling berhadapan dengan kemaluan kami masih bersatu. Rupanya beliau ingin menunjukkan kepadaku “darah perawanku” yang berceceran di paha, perut dan juga pada sprei tempat tidur.

“Nah … sekarang kamu ga usah takut lagi sama laki-laki karena sudah tidak perawan lagi” canda pak Yanto kepadaku “kamu menyesal ga ?” lanjutnya dengan bertanya

Sejenak aku tertegun mendengar pertanyaanbeliau yang terakhir. Aku sendiri sebenarnya agak merasa heran dengan diriku sendiri karena hampir tidak ada rasa menyesal sama sekali kehilangan keperawananku begitu saja. Padahal yang mengambilnya adalah bossku sendiri yang sudah berkeluarga, bukan kekasihku yang sudah kupacari hampir 4 tahun lamanya.

Aku juga merasa bahwa sejak awal tidak pernah sungguh-sungguh dalam menolak “pendekatan” pak Yanto untuk merubah ciuman menjadi persetubuhan. Mungkin rasa kagum dan hormatku yang begitu besar kepada pak Yanto bukan hanya membuat aku selama ini senang bekerja untuk beliau tapi juga rela berkorban termasuk memberikan keperawananku saat beliau minta.

“Saya tidak menyesal pak, karena bapak memang menginginkannya” kataku sambil tertunduk “Tapi saya mohon bapak jangan jadi menganggap saya perempuan murahan yang rela ditiduri bossnya demi karir”

“Tentu tidak sayang “ jawab pak Yanto yang membuatku lega

Aku memang sama sekali tidak berpikir untuk diperistri oleh bosku, selain dia sudah punya istri dan aku sudah punya pacar, kamipun berbeda keyakinan dimana aku tidak mau pindah agama hanya karena menikah.

Malam itu kami bersetubuh lagi, kali ini aku yang memintanya karena aku sangat terangsang saat beliau membantuku membersihkan noda-noda darah dan sisa-sisa sperma disekitar kemaluanku. Demikian pula di pagi harinya karena alasan sepele; kemaluan beliau selalu tegak sendiri saat bangun pagi sehingga meminta “pelayanan” khusus.

Selama di Taiwan kami sedikitnya bersetubuh 3 kali sehari (1x pagi 2x malam), kadang-kadang kalau ada kesempatan di tambah satu kali di jam makan siang. Selama itu pak Yanto selalu melepaskan spermanya langsung ke dalam rahimku dan saat itu aku tenang-tenang saja karena kuanggap bossku itu sudah berpengalaman dalam hal ini. Oleh karena itu aku agak kaget waktu diperjalanan pulang pak Yanto baru menyuruhku meminum pil anti hamil yang beliau beli di apotik Taipei.

Pengalaman seks pertamaku yang sangat aktif selama di Taiwan sempat membuatku ketagihan, tapi aku hanya ingin melakukannya dengan bossku saja bukan dengan pacarku atau orang lain. Kesibukan pak Yanto membuat waktu yang tersedia lebih terbatas dibandingkan waktu di Taiwan dan beliau selalu menyetubuhiku dengan menggunakan kondom atau coitus interrupt. Tapi kadang-kadang aku merengek minta beliau menyetubuhiku “secara alami” seperti waktu di Taiwan, terutama di luar masa suburku. Walaupun demikian aku sempat telat datang bulan dan hasil testku positif, untungnya umurnya kehamilanku masih beberapa minggu saja sehingga masih bisa haid lagi dengan obat pelancar datang bulan.

Sekarang hubunganku dengan bossku sudah memasuki tahun ke delapan dan aku sudah menikah empat tahun dengan pacarku. Waktu akan menikah, aku berbalik minta kado istimewa ke pak Yanto, yaitu aku minta dihamili oleh beliau karena berharap anak pertamaku adalah benih dari bossku. Untuk memastikan bahwa aku benar-benar sudah mengandung benih dari beliau saat menikah, maka dengan alasan mencari hari baik aku merubah-rubah tanggal pernikahanku sambil rajin minta “setoran” benih dari bossku untuk disiramkan pada rahimku.

Setelah menikah aku sempat tidak berhubungan badan lagi dengan beliau dua tahun lebih walaupun punya banyak kesempatan karena aku bekerja dengan beliau. Tapi pada saat akan merencanakan anak kedua yang tadinya ingin kudapat dari suamiku yang resmi tapi ternyata dari hasil test kualitas sperma suamiku tidak bagus sehingga kami harus ikut program khusus. Pada saat itulah aku memohon lagi kepada pak Yanto untuk menghamili aku lagi yang ternyata masih ditanggapi dengan antusias.

Jadilah aku wanita dengan dua suami, yaitu satu suami resmi di depan Tuhan dan sah secara hukum negara serta satu “suami genetik” yang merupakan bapak dari anak-anakku, padahal aku masih merencanakan punya sampai 1 – 2 anak lagi.

Posting Komentar Blogger Disqus

 
Top