0
Pasang
Jakarta, 14 Sya’ban 1436/1 Juni 2015 (MINA) – Ketua Divisi Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), dr. Tonggo Meaty Fransisca yang dua kali berhasil masuk ke negara bagian Rakhine, Myanmar, mengaku tidak temukan cerita pembantaian terhadap Muslim di sana
Ketua komunitas Sawah Lio Adventur Club (SAC) serahkan bantuan tunai kepada Ketua Divisi Relawan MER-C dr. Tonggo Meaty Fransisca, Ahad malam 31 Mei 2015 di Kel. Jembatan Lima, Kec. Tambora, Jakarta Barat. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)Ketua komunitas Sawah Lio Adventur Club (SAC) serahkan bantuan tunai kepada Ketua Divisi Relawan MER-C dr. Tonggo Meaty Fransisca, Ahad malam 31 Mei 2015 di Kel. Jembatan Lima, Kec. Tambora, Jakarta Barat. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

“Yang salah dari pemberitaan media adalah pada 2012 diberitakan banyak pembantaian Muslim yang tergeletak di mana-mana. Tapi saat kami datang ke Myanmar, kami tidak menemukan,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Ahad malam (31/5), Jakarta.
Namun dokter yang akrab disapa Meaty ini mengatakan, ada bekas-bekas pembakaran yang timnya saksikan selama perjalanan.
“Bekas masjid dibakar ada, bekas kuil dibakar juga ada, dan rumah-rumah di perkampungan,” katanya.
Meaty yang bersama timnya menjadi LSM medis pertama yang berhasil membuka pengobatan di negara bagian Rakhine, Myanmar, kembali datang ke kamp pengungsian Rohingya pada 2015 dengan membawa amanah bantuan langsung dari rakyat Indonesia, berupa dua unit ambulans, obat-obatan dan uang tunai.
Meaty mengaku, ketika tim yang dipimpinnya berangkat ke Rakhine, banyak yang berpesan, “Hati-hati, banyak yang dibakar-bakar”.
“Tidak ada berita itu, bahkan orang-orang Muslim yang ada di Myanmar tidak pernah mendengar berita itu,” kata dokter wanita yang mengaku sambutan pengungsi Muslim Rohingya di kamp sangat senang dan ramah.
“Ketika kami masuk, kami tanya yang dibakar di mana, ternyata tidak ada yang dibakar. Itu yang mengatakan orang Rohingya sendiri di dalam kamp,” tegasnya.
Karenanya, dia berkesimpulan adanya pihak ketiga yang sengaja menyebarkan berita pembantaian terhadap Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar.
MER-C mulai peduli Rohingya sejak 2012, saat-saat awal berita pembantaian itu sedang panas.
Saat itu, MER-C mendengar hanya ada kamp Muslim Rohingya di sana, tapi ketika mereka masuk ke sana, ternyata ada kamp Budha juga. Meski MER-C mengakui ada perbedaan yang sangat jauh dari segi fasilitas dan kenyamanannya dibandingka kamp Muslim yang sangat padat dan tidak layak. Mereka pun pada akhirnya turut membantu di kamp Budha.
Menurut Meaty, jika keluarnya Muslim Rohingya dari negerinya membuat mereka pada akhirnya mendapat simpati dari berbagai negara yang bisa menekan Myanmar memberikan status kewarganegaraan, berarti tindakan mereka sangat tepat. (L/P001/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Posting Komentar Blogger Disqus

 
Top